ekonomi bapak tua
Apr 05
Uncategorized living features No Comments
seorang bapak tua, pemilik toko kecil serba ada di salah satu pojok jalan ini. dia menjual barang kebutuhan sehari-hari, gula pasir, deterjen, terigu, biskuit, obat nyamuk dan minuman kemasan. tokonya ibarat warung kelontong pasar dengan kaca etalase dan mesin penghitung kasir. warung yang lebih modern. jam bukanya cukup bersaing, jam 6 pagi sampai 11 malam. dari mereka yang tergesa-gesa kehabisan minyak goreng untuk sarapan sampai mereka yang perlu mencari kaus kaki untuk rapat besok pagi. cari saja ke warung bapak tua.
nama warungnya sederhana. mungkin sama dengan tekadnya agar bisa menjaga hari tetap sibuk dan ekonomi dapurnya tetap mengepul. belakangan saya kira usahanya cukup maju karena ada beberapa penjaga toko yang sering saya temui di kasir ataupun diantara rak-rak barang.
berangkat dari kemajuan ekonomi warungnya itulah, para pebisnis mengira kawasan sepanjang jalan punya potensi jadi ladang untung. sehingga banyak minimarket dari grup tertentu berdampingan dengan jarak yang tidak jauh. herannya, supermarket tersebut juga tidak sepi, selalu ada mereka yang masuk dan mencari kebutuhan.
sama seperti halnya dengan warung bapak tua. kemunculan minimarket baru tak jauh dari tempatnya, hanya berselang satu bangunan besar, benar-benar unik. di suatu pagi yang cerah, hari libur yang tenang, minimarket 24 jam itu resmi buka. pelataran parkirnya luas dan fasilitasnya terlihat rapih dan bersih, begitu mengundang mata untuk mampir dan melihat-lihat. ditambah dengan beberapa kursi yang diberikan bagi mereka yang ingin menyeduh teh atau kopi di situ. trendy, begitu biasanya disebut. nah, kembali ke pagi itu, saya masih ingat jelas, hari minggu, saat yang paling tepat untuk bersantai. dengan tidak nyaman harus mendengar dengungan penjual di pengeras suara yang menggaungkan rayuan-rayuan promosi minimarket itu ke seantero kawasan. entah bagaimana ini bisa terjadi, yang jelas, jalanan yang lengang dan matahari yang terik begitu mengeringkan lengkingan mengganggu itu. ditambah lagi ada musik latar, volume suara jelas sampai diujung.
merasa tidak nyaman dengannya, saya berpikir untuk setia saja berbelanja di warung bapak tua. meski saya harus melangkah lebih jauh, namun suasana warungnya yang tidak berpendingin udara, terasa lebih akrab. mungkin juga saya tengah menikmati suasana nostalgia, mengingat rasanya berkunjung ke warung atau toko kelontong semasa kecil. sehingga jika sangat tidak terpaksa, lebih baik ke bapak tua saja.
memang persaingan merebut pelanggan akhirnya harus semakin tajam diantara para pemilik warung atau minimarket. herannya, bapak tua tidak sedikit pun menularkan rasa cemasnya ke pelanggan. dia yang senantiasa tersenyum pada pelanggan, bersikap biasa, seolah-olah minimarket yang lebih keren di sebelah adalah hal biasa. bisa juga dia berpikir kalau rejeki tidak kemana. meski demikian, bapak tua tetap berusaha. tak lama setelah minggu pagi yang berisik itu, saya melihat ada 2 orang pelayan berseragam kemeja putih dan celama panjang hitam di warung bapak tua. ah, rupanya pelayanannya ditingkatkan untuk lebih menjaga pelanggan. dari situ, saya jadi lebih sengaja memperhatikan harga-harga barang yang dijual. benar juga, selisih sedikit lebih murah, apalagi minuman botol yang segar, waah..harganya lebih murah dan paling dekat dengan harga pabrik. menarik. yang jelas, saya masih melihat mobil pengangkut barang menurunkan pesanan-pesanan si bapak. saya juga masih tetap harus antri dengan pengunjung lain saat membayar di kasir. ekonomi di warung rupanya tetap berjalan.
memang kelangsungan warung bapak tua bukan hanya menunjukkan bahwa masyarakat kita punya dua sisi seperti mata uang. keinginan berbelanja kita memang tinggi, entah sudah belanja mingguan di pasar, tiba-tiba kurang sesuatu lari ke warung di pojok jalan. ketika menjelang bepergian, harus membawa sesuatu, sekalian jalan keluar singgah di minimarket. atau bisa juga seharian bosan di rumah, semua tontonan sudah dilahap, apa salahnya jalan ke minimarket sebentar cari sesuatu untuk makan ringan. konsumtif. belanja tidak diikuti dengan perencanaan yang akurat. hukum supply and demand sangat lentur.
pada saat yang sama, masih dibukanya pintu warung bapak tua seolah menyiratkan bahwa masyarakat kita yang juga berbelanja karena hati, lebih condong ke moralitas. bisa saja sekian banyak pelanggan setia di sekitarnya berbelanja karena alasan yang kira-kira sama dengan saya. karena sudah lama berbelanja di situ, karena sudah akrab dan bersahabat dengan bapak tua, karena merasa akrab dengan suasan rumah. bisa juga karena merasa terganggu hari minggu pagi yang berisik oleh suara merajalela promosi dagang. semua karena ada alasan yang unik.
tetap saja, warung bapak tua buat saya seperti membawa kita kembali ke rumah. setidaknya untuk generasi saya yang tumbuh dengan jajanan warung atau pasar tradisional. dan untuk di tengah jakarta yang hiruk pikuk ini, menemukan sedikit jalan kembali ke masa itu, membuat langkah saya lebih memilih berjalan ke warung itu, melewati si pak tua yang duduk di belakang meja hitung, mencari-cari diantar rak sederhana. berbelanja.
RSS