<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Petang</title>
	<atom:link href="http://petang.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://petang.blog.com</link>
	<description>Menuju Suatu Sore</description>
	<lastBuildDate>Sun, 03 Jul 2011 06:28:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2-bleeding</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://petang.blog.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>itulah cinta</title>
		<link>http://petang.blog.com/2011/07/03/33/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2011/07/03/33/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2011 06:27:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[food for thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Naif-03-Itulah-Cinta1.mp3 jakarta, diantara sudut-sudutnya kala lengang di hari minggu, kecuali sesekali derum bajaj berjalan perlahan melewati polisi tidur. hari minggu biasa berjalan lambat dan cepat, bersambut-sambutan, memang waktu bergerak dan tak layak dilalukan begitu saja tanpa jejak. sepagian, sesekali meruak dalam benak, lagu ini. mereka berdendang tentang dirinya yang tengah berjalan menyusuri kata hati. terdengar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify"><a href="http://petang.blog.com/files/2011/07/Naif-03-Itulah-Cinta1.mp3/a8234c71cfe3b60de4c03af196e1329c/4fb8e8d1">Naif-03-Itulah-Cinta1.mp3</a></p>
<p style="text-align: justify">jakarta, diantara sudut-sudutnya kala lengang di hari minggu, kecuali sesekali derum bajaj berjalan perlahan melewati polisi tidur. hari minggu biasa berjalan lambat dan cepat, bersambut-sambutan, memang waktu bergerak dan tak layak dilalukan begitu saja tanpa jejak.</p>
<p>sepagian, sesekali meruak dalam benak, lagu ini. mereka berdendang tentang dirinya yang tengah berjalan menyusuri kata hati. terdengar begitu membebaskan, entah kenapa saya merasa lega untuk menyadari bahwa semua begitu manusiawi. dengan segala kekurangan dan kelebihan dari kata hati itu, manusia menjadi ciptaan utuh.</p>
<p>waktu dan kata hati bukan suatu filosofi, layaknya mereka menjadi alat dalam memaknai hidup. dalam hal ini, saya terkagum dengan <em>signature</em> seorang kawan dalam email yang selalu dikirimkannya di mailing list, sebait derai-derai cemara dari chairil anwar:</p>
<p><em>hidup hanya menunda kekalahan</em><br />
<em>tambah terasing dari cinta sekolah rendah</em><br />
<em>dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan</em><br />
<em>sebelum pada akhirnya kita menyerah</em></p>
<p>saya kira tidak ada kata-kata yang tidak terucap, karena menyerah terkadang lebih layak cukup sampai di gagasan, angan-angan, namun bukan dalam tindakan. hidup adalah cinta itu sendiri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2011/07/03/33/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://petang.blog.com/files/2011/07/Naif-03-Itulah-Cinta1.mp3" length="0" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>dilema minderjarig</title>
		<link>http://petang.blog.com/2011/04/23/dilema-minderjarig/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2011/04/23/dilema-minderjarig/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Apr 2011 05:12:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[keberadaan bangsa belanda memang menyisakan pengaruh yang luas dalam kehidupan bangsa ini. gaya hidup, bahasa, namun bukan konsep berpikir. tidak bisa dipungkiri, kemajuan peradaban bangsa oranye itu sangat progresif dan mengalami masa kejayaan pada abad 17 dan 18. menguasai perekonomia global dan sudah menikmati perdagangan bebas jauh sebelum rejim wto berhasil mengatur bangsa-bangsa sekarang. dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>keberadaan bangsa belanda memang menyisakan pengaruh yang luas dalam kehidupan bangsa ini. gaya hidup, bahasa, namun bukan konsep berpikir. tidak bisa dipungkiri, kemajuan peradaban bangsa oranye itu sangat progresif dan mengalami masa kejayaan pada abad 17 dan 18. menguasai perekonomia global dan sudah menikmati perdagangan bebas jauh sebelum rejim wto berhasil mengatur bangsa-bangsa sekarang. dari kemajuan cara berpikir yang progresif, terbentuklah suatu sistem kelola masyarakat yang berhasi membendung arus pemikiran yang berkembang untuk tidak menyentuh para penduduk hindia timur. berabad lamanya, pembendungan memuarakan suatu blok sikap mental yang jauh bertolak belakang dari dinamika kemajuan berpikir yang berkembang di sisi barat sana. </p>
<p>sampai saat ini, itu pun masih terasa. sikap mental yang tidak lentur dan cenderung menahan diri untuk membuka diri, menjadi lapang dada menerima kelebihan dan kekurangan dengan sikap yang apa adanya. </p>
<p>salah satunya adalah sikap minder. kabarnya berasal dari kata minderjarige, yang sebenarnya lebih mengacu pada batasan usia anak-anak sebelum dewasa. singkat cerita, kata ini setelah melewati rentang waktu yang cukup lama menjadi lebih singkat dan disebut dengan minder, alias rendah diri.</p>
<p>sungguh rendah diri bukan rendah hati, karena yang terakhir berkonotasi lebih mulia. sedangkan sikap rendah diri, cenderung menciptakan keusilan, kejahilan bahkan ketidaksenangan. rendah diri tentu saja secara logika disebabkan rasa ketidakmampuan seseorang dibandingkan dengan orang lain. yang pasti ada rasa kurang dibanding orang lain yang dianggap lebih. </p>
<p>jika rasa rendah diri itu terukur dari perbedaan kekayaan, atau perbedaan tampilan fisik, tentu saja menjadi hal yang lumrah dan bisa jadi mengundang rasa maklum. namun bila rasa rendah diri semata-mata muncul tanpa alasan pasti, pasti akan mengundang pertanyaan dan rasa aneh. </p>
<p>selain masalah fisik atau materi, sumber-sumber munculnya rasa rendah diri adalah karena rasa tak ingin tersaingi. uniknya manifestasi rasa tak suka disaingi ini bisa jadi sikap unjuk kekuatan guna mentahbiskan diri sendiri tidak ada alasan untuk merasa terancam dan memberi sinyal kepada pihak lain bahwa jangan coba-coba. </p>
<p>jadi, apabila di suatu lingkungan baru kita suatu saat bertemu orang yang begitu ingin memperlihatkan dialah yang memegang peran, bisa jadi dia sedang bergelut mengatasi security dilemma dalam dirinya. meski rasa ketidakamanan dalam dirinya sebatas karena dia merasa minder, tetap saja manisfestasinya bisa jauh dari sikap minder ala jaman kolonial. </p>
<p>di jaman progresif saat ini, sikap orang bisa saja bertolak belakang dari apa yang sebenarnya dalam benaknya. dan bisa saja, rendah diri dikemas dengan gaya yang berkuasa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2011/04/23/dilema-minderjarig/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ekonomi bapak tua</title>
		<link>http://petang.blog.com/2011/04/05/ekonomi-bapak-tua/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2011/04/05/ekonomi-bapak-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 10:03:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[living features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[seorang bapak tua, pemilik toko kecil serba ada di salah satu pojok jalan ini. dia menjual barang kebutuhan sehari-hari, gula pasir, deterjen, terigu, biskuit, obat nyamuk dan minuman kemasan. tokonya ibarat warung kelontong pasar dengan kaca etalase dan mesin penghitung kasir. warung yang lebih modern. jam bukanya cukup bersaing, jam 6 pagi sampai 11 malam. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">seorang bapak tua, pemilik toko kecil serba ada di salah satu pojok jalan ini. dia menjual barang kebutuhan sehari-hari, gula pasir, deterjen, terigu, biskuit, obat nyamuk dan minuman kemasan. tokonya ibarat warung kelontong pasar dengan kaca etalase dan mesin penghitung kasir. warung yang lebih modern. jam bukanya cukup bersaing, jam 6 pagi sampai 11 malam. dari mereka yang tergesa-gesa kehabisan minyak goreng untuk sarapan sampai mereka yang perlu mencari kaus kaki untuk rapat besok pagi.  cari saja ke warung bapak tua.</p>
<p style="text-align: justify">nama warungnya sederhana. mungkin sama dengan tekadnya agar bisa menjaga hari tetap sibuk dan ekonomi dapurnya tetap mengepul. belakangan saya kira usahanya cukup maju karena ada beberapa penjaga toko yang sering saya temui di kasir ataupun diantara rak-rak barang.</p>
<p style="text-align: justify">berangkat dari kemajuan ekonomi warungnya itulah, para pebisnis mengira kawasan sepanjang jalan punya potensi jadi ladang untung. sehingga banyak minimarket dari grup tertentu berdampingan dengan jarak yang tidak jauh. herannya, supermarket tersebut juga tidak sepi, selalu ada mereka yang masuk dan mencari kebutuhan.</p>
<p style="text-align: justify">sama seperti halnya dengan warung bapak tua. kemunculan minimarket baru tak jauh dari tempatnya, hanya berselang satu bangunan besar, benar-benar unik. di suatu pagi yang cerah, hari libur yang tenang, minimarket 24 jam itu resmi buka. pelataran parkirnya luas dan fasilitasnya terlihat rapih dan bersih, begitu mengundang mata untuk mampir dan melihat-lihat. ditambah dengan beberapa kursi yang diberikan bagi mereka yang ingin menyeduh teh atau kopi di situ. trendy, begitu biasanya disebut. nah, kembali ke pagi itu, saya masih ingat jelas, hari minggu, saat yang paling tepat untuk bersantai. dengan tidak nyaman harus mendengar dengungan penjual di pengeras suara yang menggaungkan rayuan-rayuan promosi minimarket itu ke seantero kawasan. entah bagaimana ini bisa terjadi, yang jelas, jalanan yang lengang dan matahari yang terik begitu mengeringkan lengkingan mengganggu itu. ditambah lagi ada musik latar, volume suara jelas sampai diujung.</p>
<p style="text-align: justify">merasa tidak nyaman dengannya, saya berpikir untuk setia saja berbelanja di warung bapak tua. meski saya harus melangkah lebih jauh, namun suasana warungnya yang tidak berpendingin udara, terasa lebih akrab. mungkin juga saya tengah menikmati suasana nostalgia, mengingat rasanya berkunjung ke warung atau toko kelontong semasa kecil. sehingga jika sangat tidak terpaksa, lebih baik ke bapak tua saja.</p>
<p style="text-align: justify">memang persaingan merebut pelanggan akhirnya harus semakin tajam diantara para pemilik warung atau minimarket. herannya, bapak tua tidak sedikit pun menularkan rasa cemasnya ke pelanggan. dia yang senantiasa tersenyum pada pelanggan, bersikap biasa, seolah-olah minimarket yang lebih keren di sebelah adalah hal biasa. bisa juga dia berpikir kalau rejeki tidak kemana. meski demikian, bapak tua tetap berusaha. tak lama setelah minggu pagi yang berisik itu, saya melihat ada 2 orang pelayan berseragam kemeja putih dan celama panjang hitam di warung bapak tua. ah, rupanya pelayanannya ditingkatkan untuk lebih menjaga pelanggan. dari situ, saya jadi lebih sengaja memperhatikan harga-harga barang yang dijual. benar juga, selisih sedikit lebih murah, apalagi minuman botol yang segar, waah..harganya lebih murah dan paling dekat dengan harga pabrik. menarik. yang jelas, saya masih melihat mobil pengangkut barang menurunkan pesanan-pesanan si bapak. saya juga masih tetap harus antri dengan pengunjung lain saat membayar di kasir. ekonomi di warung rupanya tetap berjalan.</p>
<p style="text-align: justify">memang kelangsungan warung bapak tua bukan hanya menunjukkan bahwa masyarakat kita punya dua sisi seperti mata uang. keinginan berbelanja kita memang tinggi, entah sudah belanja mingguan di pasar, tiba-tiba kurang sesuatu lari ke warung di pojok jalan. ketika menjelang bepergian, harus membawa sesuatu, sekalian jalan keluar singgah di minimarket. atau bisa juga seharian bosan di rumah, semua tontonan sudah dilahap, apa salahnya jalan ke minimarket sebentar cari sesuatu untuk makan ringan. konsumtif. belanja tidak diikuti dengan perencanaan yang akurat. hukum <em>supply and demand</em> sangat lentur.</p>
<p style="text-align: justify">pada saat yang sama, masih dibukanya pintu warung bapak tua seolah menyiratkan bahwa masyarakat kita yang juga berbelanja karena hati, lebih condong ke moralitas. bisa saja sekian banyak pelanggan setia di sekitarnya berbelanja karena alasan yang kira-kira sama dengan saya. karena sudah lama berbelanja di situ, karena sudah akrab dan bersahabat dengan bapak tua, karena merasa akrab dengan suasan rumah. bisa juga karena merasa terganggu hari minggu pagi yang berisik oleh suara merajalela promosi dagang. semua karena ada alasan yang unik.</p>
<p style="text-align: justify">tetap saja, warung bapak tua buat saya seperti membawa kita kembali ke rumah. setidaknya untuk generasi saya yang tumbuh dengan jajanan warung atau pasar tradisional. dan untuk di tengah jakarta yang hiruk pikuk ini, menemukan sedikit jalan kembali ke masa itu, membuat langkah saya lebih memilih berjalan ke warung itu, melewati si pak tua yang duduk di belakang meja hitung, mencari-cari diantar rak sederhana. berbelanja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2011/04/05/ekonomi-bapak-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih Tiga Lagi</title>
		<link>http://petang.blog.com/2011/02/19/masih-tiga-lagi/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2011/02/19/masih-tiga-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 18:06:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cikini]]></category>
		<category><![CDATA[tjikini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Berangkatlah sudah. Menyisakan hitungan kepada tiga kali 365. Pergi dilalu angin, dipayung hujan, berhari-hari saban petang kadang sampai malam. Ini kota, barangkali akan kehilangan warna senjanya. Yang mengadu, kini tinggal satu: aku. Yang&#8211;seperti lazimnya orang-orang terpisah&#8211;merasa perlu berujar: sampai jumpa. Tot ziens, Mevrouw N.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berangkatlah sudah. Menyisakan hitungan kepada tiga kali 365. Pergi dilalu angin, dipayung hujan, berhari-hari saban petang kadang sampai malam. Ini kota, barangkali akan kehilangan warna senjanya. Yang mengadu, kini tinggal satu: aku. Yang&#8211;seperti lazimnya orang-orang terpisah&#8211;merasa perlu berujar: sampai jumpa. Tot ziens, Mevrouw N.</p>
<div id="attachment_24" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://petang.blog.com/files/2011/02/Tjikini_KantorPos_1925.jpg"><img class="size-medium wp-image-24" src="http://petang.blog.com/files/2011/02/Tjikini_KantorPos_1925-300x182.jpg" alt="" width="300" height="182" /></a><p class="wp-caption-text">Tjikini postkantoor 1925</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2011/02/19/masih-tiga-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sore itu di sini</title>
		<link>http://petang.blog.com/2011/01/27/sore-itu-di-sini/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2011/01/27/sore-itu-di-sini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 08:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[food for thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[sepekan belum lagi penuh, lalu lalang orang dengan catatannya. udara kembali terik, namun konon bisa saja kembali berhujan badai menjelang perayaan tahun baru china. lalu lalang jalan di luar berhiruk pikuk dengan sesumbar bunyi klakson. pengendara masa kini sangat royal dengan membunyikan klakson. sedikit saja terhambat, bunyi klakson segera nyaring melengking, ibarat teriakan kesal. jalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sepekan belum lagi penuh, lalu lalang orang dengan catatannya. udara kembali terik, namun konon bisa saja kembali berhujan badai menjelang perayaan tahun baru china. lalu lalang jalan di luar berhiruk pikuk dengan sesumbar bunyi klakson. pengendara masa kini sangat royal dengan membunyikan klakson. sedikit saja terhambat, bunyi klakson segera nyaring melengking, ibarat teriakan kesal. jalanan semakin penuh ketegangan dan jauh dari kenyamanan. tentu saja perilaku kacau seperti ini sebagian besar disumbang dari sistem yang memang tidak mau menciptakan pengendara yang beradab. cara memperoleh surat ijin mengemudi, misalnya. jalan panjang dan berkelok bagi mereka yang ingin tertib mengikuti ujian tertulis, ujian mengemudi dan ujian bebas buta warna. jalan mulus yang cepat bagi mereka yang mau membayar dua kali lipat jasa calo, sehingga bebas kewajiban mengikuti ujian-ujian tersebut. ironis memang ketika melihat deretan bangku peserta ujian tertulis kosong sedangkan antrian pengaju surat ijin mengemudi tanpa ujian panjang mengular. pantas saja di jalan semua orang pake tarik urat, mental mengemudi kita baru sebatas membawa kendaraan agar cepat tiba di tempat tujuan. rambu-rambu hanya aksesoris. walhasil, hari-hari sekarang jalanan juga jadi euforia pengemudi. kendaraan yang semakin mudah diperoleh ditambah pengguna jalan yang bermental jalan pintas.</p>
<p>sore itu di sini. di dalam ruangan ini yang penuh dengan kipas angin. di antara kursi-kursi coklat dan meja kotak beralas marmer. saya membayangkan sebuah sore yang tidak pikuk dengan kendaraan, tapi bunyi berisik sapu lidi yang menyapu halaman. rasa senja seperti minggu sore yang harum oleh aroma rumput kering terbakar dalam sampah halaman belakang.  suatu hari menjelang malam yang langitnya ada sedikit lembayung, tentu saja dengan semeja kecil berpenganan goreng dan cangkir-cangkir teh hangat. harum. entah sore itu akan terlihat dari kota ini.</p>
<p>pemanggil waktu ashar dan magrib, tentu saja penanda rentang waktu sebuah sore. tapi para pembawa bajaj dan motor semakin berlomba cepat. kanal yang sempit membuat tempat bgi pejalan kaki juga harus terjajah, berbagi kekuasaan dengan pedagang kaki lima. dan pejalan kaki harus menjadi pengguna jalan yang paling resah terabaikan kenyamanannya di kota ini. sore tentulah tetap beranjak di atas kota yang berkembang. mungkin tanpa ritual bakar sampah halaman, kering suara alam. tapi tetap akan di sini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2011/01/27/sore-itu-di-sini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>senin pagi</title>
		<link>http://petang.blog.com/2011/01/24/senin-pagi/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2011/01/24/senin-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2011 06:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[di kotaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[kembali ke jakarta dari akhir pekan di luar jawa. perjalanan di pagi hari yang tenang. awan putih yang baru merekah di langit bergerak cukup cepat sehingga terkadang pesawat harus sedikit bergoyang. musim angin dan hujan. begitulah hidup di negara kepulauan, udara terbuka terentang di atas laut-lautnya membuat anging lebih keluasa bergerak, lepas membawa awan. kembali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kembali ke jakarta dari akhir pekan di luar jawa. perjalanan di pagi hari yang tenang. awan putih yang baru merekah di langit bergerak cukup cepat sehingga terkadang pesawat harus sedikit bergoyang. musim angin dan hujan. begitulah hidup di negara kepulauan, udara terbuka terentang di atas laut-lautnya membuat anging lebih keluasa bergerak, lepas membawa awan.</p>
<p>kembali ke jakarta, senin pagi. udara lembab dan terik pagi mulai meninggi. satu per satu bagasi diambil pemilik masing- masing. penumpang keluar dengan jinjingan. senin pagi di bandara. rasanya jakarta semakin sesak tapi begitu menarik. semut-semut banyak berdatangan menggerayangi tumpukan gula ini. untuk sebuah alasan klise, untuk membalas dendam, untuk hidup.</p>
<p>berapa banyak orang berjalan setiap hari demi sebuah mimpi. bergerak cepat, membanting diri  dan menciptakan jarak dengan akar mereka sendiri. kita semua begitu. mengejar gelora kehidupan. tapi senin pagi saya tidak menemuimu di bandara. janji kecil untuk datang tapi terlewat, terlelap.</p>
<p>senin pagi, meninggalkan bandara dengan taksi. jalan bebas hambatan cukup lengang dan kalaupun padat, saya kurang peduli. badan saya terasa pegal karena kurang tidur, karena sedih untuk janji yang terlewatkan. seperti bagaimana sebuah kota menjadi ilusi di mata para imigran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2011/01/24/senin-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dua ribu</title>
		<link>http://petang.blog.com/2011/01/18/dua-ribu/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2011/01/18/dua-ribu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Jan 2011 16:08:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[food for thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[siang hari, jam makan siang. jalanan di depan pasar blok a tanah abang bukan hanya macet, tapi semerawut. lalu lintas seperti tanah tak bertuan, bunyi pluit seenaknya bersahut-sahutan, layaknya rimba belantara. belanjaan saya cukup berat dan pundak saya rasanya pegal sekali. berjalan menyelinap diantara pedagang, calon pedagang, para plesir atau penjaja makanan. untungnya tak lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>siang hari, jam makan siang. jalanan di depan pasar blok a tanah abang bukan hanya macet, tapi semerawut. lalu lintas seperti tanah tak bertuan, bunyi pluit seenaknya bersahut-sahutan, layaknya rimba belantara.</p>
<p>belanjaan saya cukup berat dan pundak saya rasanya pegal sekali. berjalan menyelinap diantara pedagang, calon pedagang, para plesir atau penjaja makanan. untungnya tak lama keluar dari gedung saya segera menemukan taksi kosong yang bisa segera melarikan saya dari hingar bingar tanah abang. namun taksi yang baru akan menacap pergi segera dihentikan oleh seorang pria. dengan gaya akrab bak tuan rumah di sebuah pesta, dia mendekati sang supir. kaca yang sudah diturunkan setengah dibayangi badan pria sok akbrab itu.</p>
<p>dia minta dua ribu rupiah.</p>
<p>cara mintanya saja sudah terlihat permintaannya tidaklah muluk, bahkan terkesan wajar. aduh, saya jadi kesal sendiri karena kok sikap semena-mena itu bisa terlihat begitu wajar di sini. tentu saja pak supir tidak mau ambil resiko sehingga segera meminta saya, sebagai penumpang, untuk menyodorkan dua ribu rupiah yang diminta. segera taksi berlalu, hati masih kesal karena tidak bisa sedikit pun menyuarakan ketidaknyamanan dalam benak. bayangkan setiap hari ada berapa banyak kendaraan yang lewat di depang batang hidung si &#8216;tuan rumah&#8217; tadi, dan kalikan saja dengan jumlah uang yang diminta. padahal belum tentu semua kendaraan memakai jasanya. dia bukan tukang parkir apalagi petugas valet. modalnya saja hanya sebuah peluit kecil yang ditiup sesekali. duh.</p>
<p>dua ribu rupiah bisa jadi jumlah kecil, namun konteksnya bagaimana uang itu dibelanjakan masih membuat saya gusar. padahal jumlah itu bisa membeli teh botol dingin yang tentu menyegarkan, membayar tarif metro mini sekali jalan, atau beli koran pagi yang sudah harga miring di stasiun kereta. tapi kok bisa aja saya dan banyak orang lainnya yang ke tanah abang harus merelakan dua ribu rupiah untuk mereka yang sok galak, tidak mau susah bekerja jadi memilih jadi tukang ancam dalam memperoleh penghasilan. sekali lagi duh.</p>
<p>untungnya siang menjelang sore itu dapat segera membawa saya menjauh dan meninggalkan kemasygulan di sana. tapi pikiran saya jadi melantur kemana-mana, mencenungkan kenyataan bahwa bisa jadi profesi tukang ancam di sini masih bermasa depan. padahal kalau kita mau bersikap lebih gigih saja berusaha, pasti pekerjaan yang tidak beorientasi teror dapat diperoleh.  nampaknya pada pematok harga dua ribu ini alias preman sudah jadi ciri kota ini.</p>
<p>mereka ini mencirikan &#8216;mereka&#8217; yang tinggal di daerah ini, &#8216;mereka&#8217; yang memahami daerah ini, sehingga &#8216;mereka&#8217; lah yang berkuasa. saya rasa di tempat lain ada juga yang serupa dengan premanisme ala tempat kita. di china ada juga kelompok &#8216;triad&#8217; yang berkuasa di daerah tertentu. atau di italia dimana para mafioso yang tetap religius namu sekaligus tak segan menerapkan hukum rimba ala mereka. kedua kelompok terakhir ini saking berkuasanya, pengaruh mereka bisa merembes ke ranah politik negara. kekuasaan yang diperoleh juga tidak semata-mata berasal dari tampang garang-karena mereka justru jauh dari seram alias enak dilihat, melainkan kemahiran mereka memegang kendali dari bisnis tertentu. kelompok preman ini menjadi suatu korporasi dengan manajemen patron-klien yang profesional. dalam trilogi legenda &#8216;the godfather&#8217; perang antar mafia bisa karena alasan personal namun bisa juga karena persaingan bisnis. para &#8216;triad&#8217; di  china punya perhitungan khusus dalam menentukan rekan bisnis, berdasarkan kebijaksanaan ala konfisius dan strategi perang sun zi.</p>
<p>bagaimana dengan para preman di sini. saya jadi merasa geli sendiri karena kemasan mereka masih sebagai tukang gertak, tukang pukul yang mungkin saja warisan budaya &#8216;kaki tangan&#8217; para saudagar atau petinggi dari jaman kolonial. kalau dipikir lagi, bisa saja benar, karena mereka ini tadinya memang diciptakan untuk melindungi mereka yang tidak mau tangannya &#8216;kotor&#8217; oleh urusan sepele seperti perampok yang menghadang kiriman gula di hutan belantara rembang-cepu; atau melindungi para tuan tanah yang harus tari urat saat menagih hutang dari para petani. jadi mereka ada untuk menyelesaikan banyak urusan eksekusi saja. bukan kelompok yang bergabung berdasarkan suatu tujuan lain yang lebih kuat. lebih menariknya lagi,  dewasa ini, banyak preman di sini memilih tetap &#8216;eksis&#8217; di jalanan, ada juga yang memilih bereformasi menjawab tantangan globalisasi. kenyataanya fungi ancam-mengancam langgeng meski di tempat yang terlihat jauh lebih beradab dari jalanan raya. meski kesadaran manajerian ala robert t. kiyoshaki preman kita masih belum seperi para triad atau mafia (sepengetahuan saya lho), tetap ada benang merah diantara ketiganya. menjadi kendaraan politik. di jalanan mereka menjadi pengeras suara, penjaga keamanan gadungan, di gedung menjadi bisa perantara.</p>
<p>duh. bahasan ini rasanya &#8216;rimba belantara&#8217; sekali ya. padahal awalnya (memang) masalah sepele. dua ribu rupiah saja. mestinya tidak perlu jadi bahan perenungan melantur begini, apalagi sebentar lagi saya tiba di tujuan. (sekali lagi) dua ribu rupiah yang dikeluarkan semata-mata menjadi suara ketidakadilan sosial di sini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2011/01/18/dua-ribu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>bukan eropa</title>
		<link>http://petang.blog.com/2011/01/01/bukan-eropa/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2011/01/01/bukan-eropa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 15:59:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[food for thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[semalam tahun berganti. seluruh masyarakat dunia merayakannya dengan istimewa. tidak setiap hari ada pesta kembang api besar-besaran, tidak setiap saat kita bisa terjun di kolan bundaran hotel indonesia, dan tidak setiap malam, dan kemarin malam semua bisa. tentu karena semalam istimewa. bergantinya kalender baru juga gegap gempita harapan di tahun baru yang ditawarkan. sebetulnya istimewa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>semalam tahun berganti. seluruh masyarakat dunia merayakannya dengan istimewa. tidak setiap hari ada pesta kembang api besar-besaran, tidak setiap saat kita bisa terjun di kolan bundaran hotel indonesia, dan tidak setiap malam, dan kemarin malam semua bisa. tentu karena semalam istimewa. bergantinya kalender baru juga gegap gempita harapan di tahun baru yang ditawarkan.</p>
<p>sebetulnya istimewa atau tidak  itu hal yang sangat personal. kebetulan untuk saya, cara merayakannya tidaklah semeriah yang dianut orang lain. maafkan saya bila jadi membawa hal sederhana dan penuh spontanitas ke alam filosofis yang tentu menjadi begitu serius. jauh dari kesemuan yang sesaat. memang sikap ini bukan bawaan saya sejak lahir, hanya saja bagian dari saya meresapi lingkungan dan keadaan hidup saya.</p>
<p>selama dua kali malam tahun baru, saya menghabiskannya di malam musim dingin nun jauh di utara sana. saya ingat kali yang pertama saya dan teman-teman memandang pesta kembang api dari balkon apartemen saya. di kota kecil, tapi semua orang serentak bermain kembang api  menjadi kelap kerli malam. kali tahun baru yang kedua, bentuk perayaan masih sama, memandang malam pergantian bersama-sama teman. kali itu musim dingin lebih menggigit dari tahun sebelumnya, dan kami berencana menonton pesta kembang api di kota lain. karena suatu hal, kami tidak jadi naik kereta, dan akhirnya memandang kembang api di atas langit kota kecil kami, di antara lengang jalan berbatu dan kanal berair tenang.</p>
<p>tentu saja orang-orang tetap berpesta sama gilanya. bir, sampanye, kembang api dan kenangan semalam. tetap berlaku. pesta kembang api biasanya sekitar satu jam, bar-bar penuh dan semua saling berpelukan, bergembira. bedanya, di utara, dua jam setelah pesta, para petugas kebersihan dngan sigap membersihkan sisa petasan dan kertas kembang api. kereta api dan bis akan mulai beroperasi membawa pulang mereka yang mabuk. dan jalanan di pusat kota akan kembali sepi ditinggal mereka terlelap dan para pelayan bar dan kafe harus bekerja merapikan meja dan kursi. beberapa jam lebih siang, kedai kopi akan buka dan mereka yang tidak mabuk akan mampir sebentar untuk kopi dan roti. duduk sejenak dalam hening pagi menyambut tanggal satu bulan satu. kembali normal seolah-olah sekarang adalah sekarang dan semalam adalah masa yang telah selesai dan kini menjadi kenangan percakapan saja. musim dingin tetap bergulir dan tawaran obral besar akan berganti dengan edisi hari kasih sayang atau koleksi musim semi.</p>
<p>itu saja bedanya. konteks. namun ide dasar perayaan sama.</p>
<p>setahun lalu, sama saja. kembang api tapi kali ini di langit daratan yang berbeda. semuanya sama, gegap gempita dan entah jauh dari keramaian. perayaan toh tidak selamanya mengikuti arus utama, bukankah begitu. jadi bila malam tahun baru kali ini tidak jauh dengan malam-malam lain, memang begitulah adanya. keriaan yang diciptakan adalah karena konteks yang ditabiskan terhdap malam itu. berapa banyak malam istimewa yang bisa kita ciptakan atas kesadaran reasoning masing-masing.</p>
<p>apabila saya tidak ikut kemeriaahan, bukanlah karena kesederhanaan eropa. bukan juga kemapanan yang mengekspos saya selama sekian waktu, membuat saya jauh dari kesemuan, sebatas cangkang dan membawa segalanya lebih serius dan filosofis. bahwa kesenangan atau keriaan adalah bagian yang paling manusiawi selain kelaparan dan kesedihan. seperti bagaiamana mereka bekerja hanya delapan jam dan bersenang-senang sama delapan jam juga, sehingga kenikmatan hidup tetap seimbang. saya sadar semua tidak berlaku sama, karena di sini masih banyak yang mengejar kerja dua puluh jam karena jam terbang sebanding dengan pundi uang. karena masih banyak yang kelaparan sehingga waktu bersenang-senang menjadi sesuatu yang mahal, eksklusif bahkan istimewa. perlu secara dikondisikan untuk keriaan.</p>
<p>memang malam-malam seperti ini juga bagian dari kondisi yang dibuat itu, namun saya sadar konteksnya kalo ini lebih universal. malam ini semua bebas lepas tanpa batas dan ini berlaku di semua tempat, pada semua orang. sikap introvert ini personal belaka, percayalah bukan karena eropa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2011/01/01/bukan-eropa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mereka selalu menang</title>
		<link>http://petang.blog.com/2010/12/06/mereka-selalu-menang/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2010/12/06/mereka-selalu-menang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2010 16:55:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[di kotaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[jalanan sekarang bukan lagi tempat lalu lintas orang dan kendaraan semata sekarang. jalanan secara harfiah berubah menjadi tempat semua orang bisa menunjukkan kekuasaan. tepatnya minggu lalu, saya melihat perkelahian di jalan raya. soalnya lumrah saja, masalah hukum alam di jalan raya. harap maklum, jalanan kita sudah seperti hutan belantara saja. siapa yang kuat, dia yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>jalanan sekarang bukan lagi tempat lalu lintas orang dan kendaraan semata sekarang. jalanan secara harfiah berubah menjadi tempat semua orang bisa menunjukkan kekuasaan.</p>
<p>tepatnya minggu lalu, saya melihat perkelahian di jalan raya. soalnya lumrah saja, masalah hukum alam di jalan raya. harap maklum, jalanan kita sudah seperti hutan belantara saja. siapa yang kuat, dia yang menang. kekuatan tidak semata-mata dari jenis kendaraan, tapi sepintar apa kita beramanuver. persoalan orang lain terganggu, terhambat, harap maklum dan silakan menggeram, berteriak, atau telan ludah saja.</p>
<p>memang sedari saya naik, metro mini oranye ini jalannya sudah tak pusing dunianya ada dimana. kadang supirnya menancap gas dan kendaraan pun mendahului kendaraan lain. tapi begitu di ujung sana ada calon penumpang dia serta merta menepi. tak ayal sebuah motor yang keras kepala mau menandingi tersungkur di antara metro mini dan trotoar jalan. penumpang terhenyak. dan supir segera melaju ketika kenek mengatakan tidak apa-apa.</p>
<p>kali kedua, memasuki jalanan yang lebih ramai. si oranye tetap kurang peduli manfaat kaca spion. yang penting pandangan sejauh kerlingan mata saja. dan kali ini sebuah motor terhambat dan tersenggol. sadar bahwa nyali si pengendara satu ini lebih besar, maka dia pun berteriak meminta maaf. si helm putih rupanya tak terima begitu saja jadi korban kesemena-semenaan. dia tancap gas mengejar si oranye yang sadar sudah buat pagi itu jadi kisruh. padahal di depan ada rel kereta, dan bunyi penanda palang akan turun sudah terdengar. kejar-kejaran pun harus berhenti, dan si helm putih menghampiri. dia marah. ditariknya sang kenek yang memegang tiang pintu metro mini sambil terus menyerukan maaf. tapi maaf tak mudah saja diterima. baju kenek ditariknya dan tangan yang satunya memukul kepala sang kenek. penumpang malah memaklumi tindakan si oranye yang serabutan di jalan. dan meminta si helm putih memakluminya saja, toh sudah minta maaf. seorang pak tua yang tadi duduk di sebelah sana, serta merta menarik si kenek agar tak tertarik turun dari mobil dan melerai. tentu saja semua jadi tontonan jalanan, dan menjadi lebih meriah dengan bunyi bel pintu kereta api dan klakson kendaraan yang merasa terhalang. si helm putih mencaci maki, otot mukanya begitu tegang karena amarah dan dengan segala dayanya ingin seluruh dunia tahu bahwa kemarahannya ini penting bagi kelangsunngan rotasi bumi masa ini. semua merasa dunianya terganggu. dunia saya yang mana di dalamnya saya harus ke kantor dan menjalankan peran saya. dunia si pengendara mobil di belakang oranye dan putih yang tengah bertengkar. dan diantara itu semua, suara iba sang kenek yang meminta maaf terasa menjadi jembatan hubungan kita semua di pagi itu. hubungan para pengguna jalan yang tadinya horizontal alias egaliter, semua punya hak sama-hak untuk mendahului dan hak untuk dilancarkan perjalananannya, ternyata menjadi vertikal seketika. ada yang harus mengalah, meski pun hanya berupa permintaan maaf.</p>
<p>&#8220;kan saya sudah minta maaf, mas&#8221;. jadi kita ugal-ugalan bisa ditutupi oleh rasa maaf saja. di jalanan memang semakin buas semua orang. perilaku kekerasan acap kali jadi lumrah karena memang itulah jalan keluar yang paling sederhana. alih-alih membuka jalan, orang pertama kali akan mengumpat. di dalam hutan rimba ini, terkadang permintaan maaf tak bisa melukai rasa kalah, inferior, tersaingi yang ditimbulkan saat kendaraan kita didahului. yang lebih seru lagi adalah lalu lintas menjadi kanal penyaluran rasa penerimaan kita terhadap hidup. saya sempat terpikir mungkin si helm putih lagi ada masalah berat di rumah sebelum berangkat tadi. bahwa dia habis banting pintu terus ambil helm-nya dan meluncur ke kantor. jadi begitu dia terserempet, emosi yang seperti api dalam sekam serta merta meletus, seperti gunung berapi, yang menemukan cara keluarnya. coba kalau si helm putih sebelum berangkat, dia baru saja dipeluk sama orang terkasihnya, mungkin begitu diserempet, dia hanya sebal sebentar dan meluncur lagi sambil mengenangkan rasa indahnya tadi.</p>
<p>jika saja fasilitas umum di sekitar kita bisa menjadi kanal yang positif bagi penduduknya, tentu kita tak hidup di dalam belantara liar ini lagi. melainkan di dalam kebun raya bogor yang rindang, teduh dan mententramkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2010/12/06/mereka-selalu-menang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>passion</title>
		<link>http://petang.blog.com/2010/12/04/passion/</link>
		<comments>http://petang.blog.com/2010/12/04/passion/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 08:31:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aprelia28</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[food for thought]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://petang.blog.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[suatu pagi, pembicaraan di radio menarik perhatian saya. perbincangan mengenai passion. hmm..sebenarnya apa padanan kata yang paling tepat di dalam bahasa indonesia. yang jelas mereka tidak memusingkan terjemahan. menariknya adalah bagaimana hidup yang penuh passion itu. ada kesan bahwa hidup yang bergelora itu datangnya tidak setiap saat. dan bila kita sudah tertarik ke dalamnya, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>suatu pagi, pembicaraan di radio menarik perhatian saya. perbincangan mengenai passion. hmm..sebenarnya apa padanan kata yang paling tepat di dalam bahasa indonesia. yang jelas mereka tidak memusingkan terjemahan. menariknya adalah bagaimana hidup yang penuh <em>passion</em> itu. ada kesan bahwa hidup yang bergelora itu datangnya tidak setiap saat. dan bila kita sudah tertarik ke dalamnya, maka saat itulah kita berada paling dekat dengan hati nurani kita. banyak pejuang atau mereka yang menempuh jalan revolusi, apapun itu, sering berkata bahwa ini adalah kata hati mereka. oleh karenanya mereka bersikukuh dan menganggap bahwa jalan yang berbeda tidak pernah mudah dipahami oleh mereka yang awam.</p>
<p>ada berapa banyak orang bisa mengakui bahwa jalan hidup pilihannya adalah yang dipercayai juga menjadi seruan hatinya? ada berapa banyak orang yang berani berjuang menempuh jalan panjang dan tak mulus demi sebuah passion? dan berapa banyak orang yang akhirnya mengalah dan kembali menjadi manusia biasa ketika gelora jiwa berbenturan dengan keadaan?</p>
<p>sungguh sebuah pagi yang mencerahkan. ketika kalimat-kalimat lisan yang dibalut canda tawa, terkandung pesan istimewa seperti yang saya simak hari itu. saya mengerti ada orang-orang hebat di setiap generasi, adalah mereka yang punya nyali untuk berbeda. mereka yang punya keberanian untuk menuruti kata hatinya. karena tak selamanya kata hati itu sejalan dengan keadaan dunia kita. kata hati itu sesuatu yang unik dan hanya ada satu di setiap manuasia, layaknya jiwa. tidak ada yang sama. dan ketika kata hati mencuat, ia tak kan kenal kompromi, karena dia adalah cerminan paling jujur dari setiap pedalaman jiwa kita. dia mendorong kita berkarya, memenuhi hasrat itu sendiri. apakah bernyanyi di panggung, menjadi masinis kereta, menulis buku atau memasak. semua bisa dilakukan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://petang.blog.com/2010/12/04/passion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

